Jurnalisnusantara.com | Jakarta. – Salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini adalah, meningkatnya biaya hidup akibat dari kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, biaya pendidikan, tarif transportasi, dll. Kondisi ini tentu berdampak pada daya beli keluarga, termasuk juga Keluarga Besar Muhammadiyah. Dalam Perspektif Islam, menghadapi kesulitan ekonomi tidak cukup hanya dengan mengeluh, tetapi harus disikapi dengan Ikhtiar, Inovasi dan Tawakal.
Perkataan tersebut disampaikan oleh, Assoc. Prof. Dr. Faozan Amar, S.Ag, MM, CWC, yang juga sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Prof. Dr. Buya Hamka (Uhamka) sekaligus juga sebagai Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam acara Malam Bina Ilmu Dan Takwa (Mabit) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru JL. Limau 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan Jum’at kemarin, (12/06/26).
“Allah SWT berfirman dalam Surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 yang artinya, Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan harus dibarengi dengan usaha yang bersungguh-sungguh,” tutur Prof. Faozan.
Menghadapi masalah ekonomi tersebut, lanjut Prof. Faozan, ada 7 Desain Ekonomi Muhammadiyah Di Masa Efesiensi, Yang Pertama adalah, Menguatkan Ketahanan Ekonomi Keluarga, oleh karenanya setiap Keluarga Muhammadiyah harus dapat Membedakan Kebutuhan dan Keinginan serta harus dapat pula Membuat Anggaran Rumah Tangga.
“Adapun Desain Ekonomi Muhammadiyah yang Kedua adalah, Menambah Sumber Pendapatan Halal, dengan kata lain harus bisa meningkatkan sumber pendapatan dan jangan hanya berasal dari satu sumber saja, namun harus bisa pula mendapatkan pendapatan dari sumber-sumber yang lainnya,” terang Prof. Faozan.
“Sedangkan Yang Ketiga dalam Desain Ekonomi Muhammadiyah Di Masa Efesiensi adalah, Membangun Ekosistem Ekonomi Warga Muhammadiyah, jangan sampai ada Warga Muhammadiyah berbelanja diluar jaringan Jama’ah Muhammadiyah, oleh karena itu harus dihidupkan dalam Usaha di Muhammadiyah istilah, dari, oleh dan untuk Warga Muhammadiyah, baik itu dengan mengadakan kegiatan Bazar, Koperasi, maupun dalam kegiatan ekonomi yang lainnya, sebagaimana tuntunan dalam Surat Al-Ma’idah ayat : 2 yang berbunyi, Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa,” tambah Prof. Faozan.
“Selanjutnya, untuk yang Ke Empat dan Yang Kelima nya adalah, Mengurangi Ketergantungan pada Utang Konsumtif, serta Menghidupkan Gerakan Sedekah dan Ta’awun, karena saat ini masih banyak penggunaan Utang (Pinjaman) yang digunakan untuk kepentingan Konsumtif bukan Produktif, sehingga menyebabkan rapuhnya ekonomi keluarga. Dan saat ini masih banyak orang berfikir bahwa, ketika keadaan sulit maka Sedekah harus dikurangi, Namun Islam mengajarkan sebaliknya, seperti apa yang dikatakan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, hingga sejarah pun telah terjadi di Muhammadiyah, dimana dengan semangat Al-Ma’un justru Muhammadiyah tumbuh ditengah keterbatasan, krisis ekonomi akan lebih ringan jika ada solidaritas sosial,” imbuh Prof. Faozan.
“Dan untuk yang KeEnam dan yang Ketujuh dalam 7 Desain Ekonomi Muhammadiyah Di Masa Efeaiensi adalah, Meningkatkan Kompetensi dan Produktifitas, serta Menanamkan Gaya Hidup Islami dan Sederhana. Dalam kehidupan ekonomi modern kenaikan pendapatan seringkali lebih ditentukan oleh Kompetensi dan Produktifitas dari pada lamanya bekerja. Dan dalam menanamkan Gaya Hidup Islami dan Sederhana, Warga Muhammadiyah hendaknya menjauhi kehidupan yang berlebih-lebihan (Israf) dan hendaknya pula mempraktekan kehidupan yang Sederhana, kesederhanaan bukan berarti miskin, kesederhanaan adalah kemampuan mengendalikan diri ketika mempunyai kesempatan untuk hidup mewah,” tutup Assoc. Prof. Dr. Faozan Amar, S.Ag., M.M. (Man)
