April 27, 2026

Jurnalisnusantara.com | Jakarta. – Di balik kemeriahan Limau Fest Vol. 3 di Aquatic Gelora Bung Karno (GBK) Minggu, (26/04/26), ada cerita menarik tentang bagaimana Siswa-siswi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta diceburkan langsung ke dunia industri hiburan. Di bawah bimbingan Guru pendamping seperti Bu Liana Meilinda dan rekan-rekan, tim Guest Star (GS) dari Siswa, berperan layaknya Promotor Profesional sejak tahap perencanaan awal.

Dari Riset Viral Hingga Jalur Pimpinan

Proses Kurasi Artis tidak datang dari Guru, melainkan dari Radar anak muda itu sendiri. Para Siswa diminta meriset dan mencari daftar Artis yang sedang Viral dan naik daun. Setelah daftar terkumpul, mereka jugalah yang pertama kali melakukan kontak dengan para Manajer Artis untuk menanyakan ketersediaan jadwal serta harga (rate card).

“Anak-anak kami minta cari sebanyak-banyaknya, mereka yang hubungi Manajernya langsung. Setelah data terkumpul, baru kami serahkan ke Pimpinan untuk keputusan akhirnya,” ujar Liana, Guru pendamping di Divisi GS. Strategi ini diambil agar Siswa memahami alur birokrasi Profesional: Riset di lapangan, namun tetap menghormati keputusan Pimpinan.

Mengelola Sistem “All In” Dan Kedisiplinan Riders

Uniknya, meskipun kontrak Artis tahun ini menggunakan sistem All-in di mana Akomodasi seperti Hotel dan Transportasi sudah dikelola Manajemen artis, tanggungjawab Siswa tidak lantas menjadi ringan. Mereka tetap menjadi garda terdepan dalam menyiapkan Riders teknis maupun logistik di lokasi acara.
Mulai dari urusan Check Sound hingga penyediaan konsumsi selama Artis berada dibackstage, semuanya dikelola oleh tangan-tangan Siswa. Tim GS dibagi secara spesifik: dua orang siswa bertanggung jawab penuh atas satu Artis. Pola ini memastikan setiap kebutuhan Artis, mulai dari kebutuhan alat musik hingga logistik makanan, terlayani dengan detail dan personal.

Sisi lain, Divisi konsumsi yang bekerja sama dengan Divisi GS pun tidak kalah kelabakannya dengan Divisi GS dalam menyiapkan kebutuhan Riders para Guest star.

“Untungnya tahun ini Ridersnya Alhamdulillah masih masuk akal karena tahun lalu ada yg minta air 40 ribu”, ujar Alula Divisi Konsumsi.

Belajar Komunikasi Melalui “Road Manager”

Lebih dari sekadar menyiapkan makanan atau alat, esensi utama dari tugas ini adalah komunikasi.

“Sebelum hari H aku selalu komunikasi dengan Road Managernya, jadi dari mulai teknis, Riders dan segala macem aku tanyain ke kak pungkynya (Roadman). Disitu sudah mulai kaya sibuk nanya-nanya ke acara soal jadwal, ngurusin Riders, sama Technical ridersnya. Sampe pernah kena omel karena pihak Sekolah belom ngasih jadwal fiksnya. Tapi itu semua pengalaman yang sangat menyenangkan, banyak ilmu baru, dan paling penting aku tidak pernah menyesal berada di bagian Limau Fest tahun ini.”, ujar Alleya, salah satu tim GS saat di wawancarai pengalamannya.

Para siswa berkomunikasi intens dengan para Road Manager (RM) Artis papan atas. Dari sini, mereka belajar bagaimana cara bernegosiasi, menjaga etika berkomunikasi dengan pihak luar, hingga menyelesaikan masalah dengan cepat di bawah tekanan waktu festival.

“Kami memang ingin Anak-anak belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang luar. Ini pengalaman nyata yang tidak ada di buku pelajaran,” tambah Liana.

Melalui Limau Fest, SMA Muhammadiyah 3 Jakarta membuktikan bahwa Festival Sekolah bukan hanya soal panggung yang megah, tapi juga tentang memberikan panggung bagi Siswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan siap menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

Kontributor : Sindi Nur Diansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!