June 13, 2024

Jurnalisnusantara.com | Jakarta. – Bertempat di Auditorium Masjid Al-Huda Muhammadiyah Tebet timur Jakarta Selatan, berkumpul ratusan Pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Se-Jakarta Selatan untuk dikukuhkan sebagai Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta Dr. Ahmad Abu Bakar, mengukuhkan secara resmi Pimpinan Daerah dan Cabang Muhammadiyah Se-Jakarta Selatan periode 2022-2027. Kemudian Ibu Syamsidar Siregar juga mengukuhkan pimpinan Daerah dan Cabang Aisyiyah Se-Jakarta Selatan.

Acara dibuka oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Selatan, Dr. Edy Sukardi dengan mengucapan terima kasih kepada Cabang sudah melaksanakan Musycab tepat waktu yang lebih mengedepankan kolaborasi pada saat nanti melaksanakan program putusan induknya.

Karena Ketua PDM Jakarta Selatan ber jiwa seni dan seorang budayawan maka, rangkaian acara pengukuhan bersama semarak dengan nuansa budayanya seperti pantun dan puisi.

Tampilan tari persembahan dan tari lainnya baik dari daerah Betawi, Sumatera Barat, Jawa Barat maupun tari adat Jawa Timur semakin meramaikan rangkaian acara pengukuhan tersebut.

Kemudian yang mendapat perhatian lebih dari para tamu undangan adalah dengan hadirnya sutradara film, anggota LSBO PP Muhammadiyah yakni Hanung Bramantyo, seraya menyampaikan orasi soal budaya melalui media film. “Bagaimana film awal mula dibuat, sebuah film dijadikan propaganda penguasa saat itu, dan saat ini film sudah berada dekat dengan gengaman tangan kita yaitu melalui Hp,” tuturnya.

“Saat ini menikmati film tidak perlu cape-cape ke Bioskop tetapi cukup satu klik, Facebook, YouTube atau Tiktok sudah mudah sekali bisa menikmati sebuah film. Pada akhirnya Hanung mengatakan, sebuah film itu adalah sebuah subjek, tidak ada sebuah film dikatakan sebuah objek, biarpun yang diceritakan adalah sebuah objek tetap saja dikatakan sebuah subjek karena dibuat oleh sutradara sesuai dengan maunya sendiri.

Orasi kedua disampaikah oleh Dr. Hidayat Nur Wahid Wakil Ketua MPR RI, “Boleh saja kita terus menceritakan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dengan segala pesan-pesan ideologinya, bercerita tentang heroiknya perjuangan Jenderal Sudirman sebagai Kader atau Guru Muhammadiyah tapi jangan lupa dengan sosok Ki. Bagus Hadikusomo, ditangan beliaulah ajaran2 KH. Ahmad Dahlan terus dilaksanakan. Ki. Bagus lah yang memperjuangkan Asas atau Pondasi awal Bangsa Indonesia dengan Piagam Jakartanya,” terangnya.

Sejak dulu kata HNW, para tokoh Islam, bersama Non Islam dan Nasionalis sudah saling mengikat satu sama lain. Karena itu, Muhammadiyah menyebut Bangunan Permusyawaratan yang membentuk Indonesia sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, artinya Negara Kesepakatan dari perjanjian yang disepakati.

Acara pengukuhan ini diakhiri dengan lomba mirip tokoh Muhammadiyah dan tokoh Aisyiyah serta lomba busana tradisional terbaik.(Wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!